Kamis, 15 Juli 2010

timun

MENTIMUN (Cucumis sativus) | Tanaman ini termasuk familia Cucurbitaceae.
Kandungan :

saponin, flavonoida, polifenol, asam malonat, vitamin E, kukurbitasin C.
Kegunaan :
Diare pada anak.

1 mentimun dicuci, rebus, haluskan, saring. Airnya diberi madu dan diminum.
Hipertensi.

a) 2 mentimun dicuci, parut, peras. Minum airnya 2-3 kali sehari.

b) 150 gram mentimun direbus, saring, airnya diminum. Lakukan setiap hari secara teratur.
Jerawat, menghaluskan kulit wajah, menghilangkan nida hitam.

a) Mentimun diblender lalu dilaburkan ke wajah untuk masker. Biarkan mengering, lalu bilas.

b) Kulit mentimun digosokkan ke kulit wajah, biarkan mengering, lalu bilas.
Mencegah penyakit ginjal.

3 buah mentimun direbus hingga lunak, peras dan minum airnya 3 kali sehari. Makan juga ampasnya.
Disentri.

1-2 buah mentimun dicuci, potong-potong, rendam dalam madu. Makan beberapa kali.
Sariawan.

1-2 mentimun tua dicuci, kupas, iris-iris. Makan agak banyak setiap hari.
Demam.

1 buah mentimun dicuci, parut, beri eau de cologne, lalu bungkus dengan saputangan, letakkan di atas kening penderita demam.
Tifus.

2 mentimun dicuci, parut, peras, minum sekaligus. Ulangi 3 kali sehari.
Radang ginjal.

3 mentimun yang besar dicuci, rebus, sampai empuk dengan 2 gelas air, dinginkan, peras, airnya diminum.

demi

SEMBUNG (Blumea balsamifera [L.] DC.) | Tanaman ini termasuk familia Asteraceae. Tumbuhan ini banyak tumbuh di tempat terbuka sampai agak terlindung di tepi sungai dan tanah pertanian.Dapat tumbuh di tanah berpasir atau yang agak basah sampai pada ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut.

Tumbuhan ini dapat dikembangbiakkan melalui biji atau pemisahan tunas akar.
Tanaman ini mengandung :

minyak asiri (ngai kamfer), zat bergetah (kapur barus), borneol, sineol, limonen, asam palmitin, myristin, alkohol sesquiterpen, dimetileter khlorasetofenon, tanin, pirokatechin, glikosida.
Nama lainnya :

Baccharis salvia Lour.; Conyza balsamifera L.; Pluchea balsamifera (L.) Less.; sembung, capa (Melayu); sebung, sembung utan (Sunda); sembung, sembung gantung, sembung gula, sembung kuwuk, sebung legi, sembung mingsa, sembung langu, sembung lelet (Jawa); kamandhin (Madura); sembung (Bali); ai na xiang (Cina); dai bi, dai ngai (Thailand); ngai champora (Inggris).
Kegunaan :
Diare.

Segenggam daun sembung segar dicuci, potong-potong, rebus dengan 3 gelas air sampai airnya tersisa 1,5 gelas, tambahkan madu, minum 3 kali sehari, masing-masing 1/2 gelas.
Haid tidak teratur, perut kembung.

Cuci 20 gram daun sembung segar lalu potong-potong, rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 3/4-nya, beri madu, minum sehari 3 kali, masing-masing 3/4 gelas.
Nyeri haid.

a) Lima lembar daun sembung segar dan 5 biji kedaun yang telah dipanggang dan dihaluskan direbus dengan 2 gelas air bersih sampai tersisa setengah, dinginkan, minum.

b) Akar sembuh dan seluruh tumbuhan ginjean (Leonorus sibiricus) masing-masing 30 gram dicuci, potong-potong, tambahkan gula merah, rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1,5 gelas, dinginkan, saring, minum dua kali sehari masing-masing 3/4 gelas.
Rematik sendi.

Akar sembung 30 gram dan daun gandarusa 60 gram dicuci, potong-potong, rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas, dinginkan, saring, minum 2 kali sehari masing-masing 1/2 gelas.
Demam.

Sebanyak 15 gram daun sembung segar direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit, dinginkan, saring, lalu hasilnya diminum 2 kali sehari.
Kurang nafsu makan.

Akar sembung dari tumbuhan yang belum berbunga sebanyak 30 gram dipotong-potong, seduh dengan secangkir air panas, dinginkan, saring, minum semua.
Catatan :

Merebus daun sembung harus dalam panci tertutup, agar minyak asirinya tidak menguap.

cara

Pada industri jamu atau herbal, penjual jamu atau pengguna yang meramu dan mengkonsumsi sendiri ramuannya, tumbuhan obat segar atau simplisia (tumbuhan obat yang dikeringkan) sebagai bahan baku dapat diperoleh dengan berbagai cara, yaitu: memetik/memanen sendiri tanaman yang dibudidayakan, mencari/memungut dari tumbuhan liar, atau membelinya dari penjual/pemasok simplisia.

Tanaman obat yang dibudidaya, umumnya keasliannya sudah diketahui dengan baik. Tetapi, pada simplisia yang berasal dari tumbuhan liar atau dibeli dari pemasok, kadang tumbuhan obat tersebut tercampur dengan tumbuhan lain yang mirip ciri morfologinya, baik secara sengaja atau tidak, bahkan dapat tertukar atau terjadi kekeliruan dengan tumbuhan lain.

Kesalahan pengambilan tumbuhan obat dapat terjadi karena kesamaan morfologi atau nama yang hampir mirip. Hal ini seringkali menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan.

Sebagai contoh: di Eropa tengah, tumbuhan Bear’s Garlic atau Ramsons (Allium ursinum L.) digunakan sebagai sayuran, salad, rempah-rempah atau sebagai ramuan untuk pesto in lieu of basil. Batang tumbuhan ini berbentuk segitiga dan daunnya mirip Lily of theValley (Convallaria majalis), Meadow Saffron (Colchicum autumnale) atau Autumn crocus (Crocus sativus). Karena kemiripan morfologi daun, seringkali tumbuhan tersebut dikelirukan. Pernah dilaporkan beberapa kasus keracunan kolkisina (alkaloid beracun yang terdapat dalam Autumn crocus maupun Meadow Saffron) akibat kekeliruan mengkonsumsi/mengambil ramsons dengan Autumn crocus atau Meadow Saffron. Keracunan Kolkisina dapat menyebabkan gastroenterocolitis, diikuti dengan kegagalan fungsi berbagai organ tubuh dan apabila tidak segera mendapatkan pertolongan, dapat berakhir dengan kematian.

Kasus nefrotoksisitas maupun gagal ginjal pernah terjadi pada wanita-wanita Belgia yang ingin melangsingkan tubuhnya. Para wanita tersebut mengkonsumsi berbagai obat yang diberikan oleh klinik pelangsingan tubuh, antara lain serotonin dicampur dengan obat herbal tertentu yang mengandung Stephania tetranda (Guang Fang Ji). Ketika kasus gagal ginjal terjadi, obat herbal yang digunakan diperiksa, ternyata tidak mengandung Stephania tetranda, tetapi mengandung tumbuhan lain, Aristolochia sp. (Han Fang Ji). Diduga Stephania tetranda (Guang Fang Ji) dikelirukan/diganti dengan Aristochia sp. (Han Fang Ji) yang mempunyai nama yang mirip. Aristolochia sp. mengandung asam aristolokat yang toksik terhadap ginjal.

Di Indonesia, meskipun belum pernah dilaporkan adanya kasus fatal akibat kekeliruan penggunaan tumbuhan obat, tetapi mungkin saja terjadi kasus kekeliruan seperti di atas karena kesamaan ciri morfologi maupun nama tumbuhan. Tumbuhan satu marga, umumnya mempunyai ciri morfologi yang hampir mirip, misalnya kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Bl.) Mlq. ) dan Orthosiphon spicatus (Thumb) BBS); kemangi (Ocimum sanctum L.) dengan selasih (Ocimum basilicum L.), berbagai jenis lempuyang, misalnya lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val.), lempuyang pahit (Zingiber amaricans Bl.) serta lempuyang gajah (Zingiber zerumbet Sm.) dan sebagainya. Nama tumbuhan yang mirip, misalnya: kecibeling (Hemigraphis colorata Hall. f., Ruella napifera Zoll et Mor. dan Strobilanthus crispus L.); kunci pepet (Kaempferia rotunda L. dan Kaempferia angustifolia Rosc.); daun dewa (Gynura pseudo-china (L.) DC. dan (Gynura procumbens (Lour.) Merr. ) . Talesom (Talinum paniculatum Gaertn.) dan Kolesom (Talinum triangulare Willd.). Oleh karena itu untuk menghindari terjadinya kejadian yang tidak diinginkan, maka pemastian keaslian tumbuhan sangatlah penting.

Terdapat beberapa metode untuk memastikan keaslian suatu tumbuhan, yaitu:

1. Metode organoleptik, dengan cara meremas kemudian membau dan/atau merasakan. Metode ini mempunyai resiko kesalahan yang tinggi dan hanya orang tertentu yang ahli dan berpengalaman saja yang mampu melakukannya dengan hasil yang baik. Tumbuhan yang mengandung minyak atsiri biasanya mempunyai bau yang khas, sedangkan tumbuhan yang mengandung alkaloid umumnya mempunyai rasa pahit.
2. Metode morfologi dan anatomi tumbuhan. Pemeriksaan ciri morfologi dilakukan secara kasat mata atau menggunakan kaca pembesar (loupe), dengan mengamati bentuk daun, batang, akar, rimpang, susunan bunga dan sebagainya. Pemeriksaan ciri anatomi menggunakan mikroskop, dilakukan terhadap irisan melintang atau membujur dari jaringan tumbuhan atau pemeriksaan serbuk/bagian tumbuhan yang telah dikeringkan. Cara pemeriksaan ini dilakukan untuk mengamati bentuk sel dan jaringan (jaringan meristem, epidermis gabus, parenkim, klorenkim, sklerenkim, phloem dan xylem), sel batu, trikomata, kristal kalsium oksalat, dan sebagainya. Tumbuhan pada umumnya mempunyai ciri morfologi dan anatomi yang spesifik dan dapat digunakan sebagai penciri bagi tumbuhan tersebut.
3. Metode kimia, berdasarkan reaksi kimia antara kandungan tumbuhan dengan pereaksi maupun pengamatan bentuk/profil kromatogram kromatografi, baik secara kromatografi lapis tipis (KLT), kromatografi gas (KG ) atau kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Sidik kromatogram suatu tumbuhan obat umumnya spesifik. Tumbuhan pada umumnya mempunyai kandungan kimia tertentu, sehingga dengan pengamatan profil kromatogram, dibandingkan dengan standar, maka dapat diketahui apakah tumbuhan tersebut asli atau tidak. Panax quinquefolium (Ginseng Amerika) mempunyai 29 macam kandungan saponin (Ginsenosida) dengan 24 (R)-pseudoginsenosida F11 sebagai kandungan spesifiknya, sedangkan Panax ginseng (Ginseng China) hanya mempunyai 20 jenis Ginsenosida dengan Ginsenosida Rf sebagai kandungan spesifiknya.
4. Metode genetik, dengan mengamati sidik DNA tumbuhan. Teknik-teknik yang digunakan meliputi random amplified polymorphic DNA (RAPD), DNA fingerprinting menggunakan multi-loci probes, restriction fragmen length polymorphism (RFLP), amplified fragment length polymorphism (AFLP), arbitrarily primed polymerase chain reaction (AP-PCR)dan microsatellite marker technology.

Daftar Bacaan:

Cosyns JP (2003), Aristolochic acid (formerly Chinese herbs) nephropathy, 19th European Congress of Pathology (Ljubljana, Slovenia).

Heyne K. (1950), Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilii II, Cetakan I, Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta.

Hon CC, Chow YC, Zeng FY, Leung FCC (2003), Genetic authentication of Ginseng and other traditional Chinese Medicine. Acta Pharmacol Sin. 24 (9): 841-846.

Kartasapoetra, AG. (1987), Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan, PT. Bina Aksara , Jakarta.

Kasahara S., Seizaburo H (Eds.) (1995), Medicinal Herb Index in Indonesia, PT. Eisai Indonesia, Jakarta.

Sundov Z. et al. Fatal Colchicine poisoning by accidental ingestion of meadow saffron-case report, Forensic Science International, 149 (2-3), 253-256.

Tjitrosoepomo, G. (1985), Morfologi tumbuhan, Gadjah Mada University Press.

Sumber : www.obatherbalindonesia.blogspot.com

serai

Written on 30/07/2009 at 00:09 by Author
SERAI (Cymbopogon nardus)
Filed under Serai, TANAMAN OBAT 2 comments

SERAI (Cymbopogon nardus)

SERAI (Cymbopogon nardus) | Tanaman termasuk familia Poaceae. Serai menyukai lahan yang berada di dekat air dengan tanah yang gembur. Tak heran bila serai dapat ditemukan tumbuh liar di tepi sungai, rawa, atau saluran irigasi.

Untuk pengembangbiakannya tanaman serai cukup mudah. Pisahkanlah serai bagian rumputnya dengan mengikutkan akarnya dan tanamlah.
Nama lain :

sereh, sere (Jawa), sarai, sorai, sange-sange (Sumatera), belangkak, senggalau, salai (Kalimantan), see, nau sina, bu muke (Nusa Tenggara), tonti, sare (Sulawesi), hisa, isa (Maluku)
Tanaman ini mengandung :

Minyak asiri: geraniol, citronnelal, eugenol-metil eter, sitral, dipenten, eugenol, kadinen, kadinol, dan limonen.
Kegunaan :
Badan terasa pegal:

Siapkanlah 600 g batang serai segar berikut akar. Rebus dengan air. Air rebusan digunakan untuk mandi. Mandilah saat air masih hangat.
Obat batuk:

Siapkan 600 g serai segar dan keringkan. Setelah itu, rebuslah dengan air secukupnya. Minum air rebusan serai ini.
Nyeri atau Ngilu:

Tanaman serai sudah disuling untuk diambil minyak atsirinya. Minyak serai ini digosokkan pada bagian yang sakit. Selain itu, dapat juga batang serai segar direbus dengan sedikit air, lalu dicampur dengan air dan dioleskan pada sendi yang ngilu.
Khasiat lain (sakit kepala, nyeri lambung, diare):

Beberapa tetes minyak serai langsung diminum.

obay

Hal yang paling mendasar dari penggunaan suatu tumbuhan sebagai obat atau sebagai obyek penelitian adalah kebenaran atau keaslian dari tumbuhan tersebut.

Tumbuhan obat dapat mempunyai banyak nama, dan nama-nama tersebut digolongkan ke dalam dua kelompok: Nama lokal (nama daerah/nama setempat) dan nama ilmiah (nama internasional/nama latin). Suatu tumbuhan obat dapat mempunyai banyak nama lokal, tetapi hanya satu nama ilmiah yang diakui atau dikenal di seluruh dunia.

Sebagai contoh: Jahe.
Jahe dapat mempunyai banyak nama lokal, misalnya: halia (Aceh); beuing (Gayo); bahing ( Batak karo); pege (Toba); sipode (Mandailing); lahia (Nias); alia, jae (Melayu); sipadeh, sipodeh (Minangkabau); pege (Lubu); jahi (Lampung); jahe (Sunda); jae (Jawa); jhai (Madura); jae (Kangean); lai (Dayak); jae (Bali); reja (Bima); alia (Sumba); lea (Flores); luya (Mongon-dow); moyuman (Ponos); melito (Gorontalo); yuyo (Buol); kuya (Baree); laia (Makasar); pese (Bugis); hairalo (Aimahai); pusu, seeia, sehi (Ambon); sehi (Hila); sehil (Nusa laut); siwei (Buru); geraka (Ternate); gora (Tidore); laian (Aru); leya (Alfuru); lali (Papua-Kalana fat); manman (papua (Kapaur). Ginger (Inggris); shengjiang(China), gung, sinh khuong, can khuong, co kinh (Thai). Tetapi, jahe hanya mempunyai satu nama ilmiah, yaitu Zingiber officinale Roscoe yang dikenal diseluruh dunia.

Masalah yang timbul berkaitan dengan nama tumbuhan adalah:

1. Tumbuhan yang sama (nama ilmiah sama), tetapi mempunyai nama lokal berbeda.

Contoh: jahe. Di Jawa, jahe (Zingiber officinale Roscoe) di kenal dengan nama jae, tetapi di Aceh disebut
halia, di Minangkabau disebut sipadeh dan di Inggris dikenal sebagai ginger.

2. Tumbuhan dengan nama lokal yang sama, tetapi nama ilmiah berbeda.

Contoh: kecibeling. Tumbuhan kecibeling dapat mempunyai beberapa nama ilmiah, yaitu: Strobilanthes crispusL.; Ruellia napifera Zoll et Mor.; Hemigraphis colorata Hall. f. Tumbuhan kunci pepet dapat mempunyai dua nama ilmiah Kaempferia rotunda L (di daerah Surabaya, Jawa timur – gambar sebelah kiri) dan dapat pula bernama Kaempferia angustifolia Roscoe (di daerah Semarang, Jawa tengah – gambar sebelah kanan).

Akibat dari permasalahan nama tumbuhan tersebut kemungkinan dapat menimbulkan kekeliruan dalam penggunaan oleh masyarakat, padahal tumbuhan yang berbeda, manfaat/ khasiatnya mungkin berbeda.

Contoh: rimpang K. rotunda L. digunakan sebagai obat sakit perut; sedangkan rimpang K. angustifolia Roscoe digunakan sebagai obat panas, disentri, mencret, masuk angin dan menguruskan badan. Perbedaan manfaat tersebut salah satu penyebabnya adalah adanya perbedaan kandungan kimianya.

Pengelola Obat Herbal Indonesia (OHI) beserta beberapa peneliti lain telah melakukan penelitian terhadap kandungan minyak atsiri dari rimpang kedua jenis Kaempferia tersebut. Hasil penelitian yang berjudul: ” Composition of the essential oils of Kaempferia rotunda L. and Kaempferia angustifolia Roscoe rhizomes from Indonesia”. Ditulis bersama oleh Herman J. Woerdenbag, (Groningen Research Institute of Pharmacy (GRIP), Groningen University Institute for Drug Exploration (GUIDE), Antonius Deusinglaan 2, 9713 AW Groningen, The Netherlands) ; Tri Windono (Laboratorium Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya, Jalan Raya Kalirungkut, Surabaya 60293, Indonesia); Rein Bos and Wim J. Quax (Department of Pharmaceutical Biology, Groningen Research Institute of Pharmacy (GRIP), Groningen University Institute for Drug Exploration (GUIDE), Antonius Deusinglaan 1, 9713 AV Groningen, The Netherlands); Sudarsono Riswan (Herbarium Bogoriense, Indonesian Institute of Science (LIPI), Jalan Ir. H. Juanda 22, PO Box 332, Bogor 16122, Indonesia), dan telah dipublikasikan dalam Flavour and Fragrance Journal, Vol. 19; issue 2 (2004), 145-148.

Abstract
The volatile constituents of rhizomes (main rhizome, lateral parts) of two medicinally used Indonesian plants of the family Zingiberaceae, Kaempferia rotunda L. and K. angustifolia Roscoe, were investigated by GC and GC-MS (EI) analysis. A total of 75 compounds were identified. The most abundant constituents were benzyl benzoate (69.7%, 20.2%), n-pentadecane (22.9%, 53.8%) and camphene (1.0%, 6.2%) in K. rotunda, and n-pentadecane (17.8%, 5.0%), camphene (9.1%, 12.4%), camphor (6.2%, 5.7%) and bornyl formate (3.7%, 16.3%) in K. angustifolia. Although both species are known in Java under the same local name (kunci pepet) and probably will be interexchanged, there are some marked phytochemical differences. Copyright © 2004 John Wiley & Sons, Lt

ओबत 1

SIRIH (Piper betle L.) | Tanaman ini termasuk familia Poaceae. Tumbuhan ini tumbuh di tempat yang terbuka atau sedikit terlindung dan ada rambatannya.

Tumbuhan ini dapat dikembangbiakkan melalui setek batangnya yang sudah agak tua yang terdiri dari 4-6 ruas, semaikan di tempat yang teduh. Biarkan sampai tumbuh subur sebelum dipindahkan ke pekarangan.
Tanaman ini mengandung :

minyak asiri, hidroksivacikol, kavicol, kavibetol, allypyrokatekol, karvakrol, eugenol, eugenol methyl ether, p-cymene, cineole, caryophyllene, cadinene, estragol, tgerpenena, sesquiterpena, fenil propana, tanin, diastase, gula, pati.
Nama lainnya :

suruh, sedah (Jawa); seureuh (Sunda); ranub (Aceh); belo (Batak Karo); cambai (Lampung); uwit (Dayak); base (Bali); nahi (Bima); gapura (Bugis); mota (Flores); afo (Sentani); ju jiang (Cina).
Kegunaan :
Menghilangkan bau badan.

Rebus 5 lembar daun sirih segar dengan 2 gelas air, hingga tinggal 1 gelas. Minum siang hari.
Mimisan atau keluar darah dari hidung.

Selembar daun sirih muda, cuci, tekuk dua, gulung, masukkan ke hidung yang berdarah, sampai darah berhenti mengalir. Usahakan agar penderita tetap duduk tegak, agar darah tidak megnalir ke belakang rongga hidung.
Koreng atau gatal-gatal.

20 lembar daun seirih yang tua, rebus dengan 3-4 gelas air, gunakan air rebusan daun sirih yang hangat untuk mencuci bagian yang terkena koreng atau gatal.
Pembersih mata yang gatal atau merah.

Rebus 5-6 lembar daun sirih muda dengan 1 gelas air, didihkan, dinginkan, gunakan untuk membasuh mata 3 kali sehari.
Obat sariawan.

1-2 lembar daun sirih dibersihkan, lalu kunyah hingga lumat, biarkan sebentar di mulut, tempat terkena sariawan.
Menghilangkan bau mulut.

Gunakan air rebusan daun sirih untuk berkumur.
Mengurangi jerawat.

Basuh wajah dengan air rebusan daun sirih.
Menguatkan gigi agar tidak mudah tanggal.

Kunyah daun sirih dengan pinang dan kapur.