Kamis, 09 Juli 2015

(?)



Aku yang tertikam kehidupan. Lelah disiksa dengan keadaan yang tak pasti. Semua serba semu. Bahkan semua tampak jelas pada diriku. Untuk sebuah nama yang sebagaimana dikata William Shakespeare, apa arti sebuah nama. Tapi bagiku tidak begitu, nama adalah gambaran dari diri seorang. Dan aku bernamakan Tanya. Ya, entah bagaimana kedua orang tuaku berfikir hingga kata tanya menjadi pilihannya untuk inisial gadis yang dengan ribuan tanda tanya ini. Meski aku punya kata lain setelah Tanya, tapi tetap mereka para manusia memanggilku Tanya. Tak pernah menyapaku dengan nama akhirku Shafia yang jauh lebih indah. Dan mungkin hidupku tak akan seberat ini. bukan aku tak bersyukur. Tapi inilah kenyataan yang begitu keras.
Untuk hitungan tahun aku harus rela mengumpulkan kilogram keringat untuk dapat bertahan hidup. Lalu untuk hitungan bulan yang hanya punya tiga puluh hari yang dikata mereka para atasan teramat singkat. Aku harus rela mengorbankan waktu mudaku. Bahkan dalam kumpulan jam yang berderet angka satu hingga dua puluh empat aku harus rela memutar otakku dari tempat awalnya. Menjungkirkannya dari kepala ke bagian paling kotor, telapak kaki. Entah kepada siapa aku harus menyalahkan kehidupanku. Orang tuaku? Sejak aku mengenal usia satu tahun, aku tak pernah melihat kedua wajah mereka. Untuk selembar photopun tak pernah sedetikpun. Hingga aku sempat berfikir jika aku terlahir bukan dari seorang wanita, tapi aku terlahir dari letupan granat, bom atau yang lainnya. Benda yang selalu dihindari banyak insan karena tingkah lakunya yang kan meresahkan semua penduduk bumi. Tapi aku kembali berfikir logis, jika tak ada manusia dibumi ini yang lahir seperti timun mas dalam dongeng penimang upin-ipin dan kawannya.

Tanya Shafia, aku terlahir ditanah yang dikata orang surga dunia. Bali. Tapi hingga detik ini, aku tak lagi melangkahkah kaki ini pada tanah surge itu. Salah satu kota yang lebih terkenal dari negaranya. Ya, karena banyak diantara wisatawan mancanegara lebih mengenal Bali dari Indonesia. Tapi sejak aku mengenal teriknya mentari dan dinginnya kegelapan rembulan hingga usiaku 19 aku tak pernah sesekali menginjak kota surga itu.
Bagaimana aku bisa traveling menikmati indahnya kota kelahiranku, untuk sekedar menikmati nikmatnya tidur pagi saja aku tak pernah. Bahkan sejak adzan subuh berkumandang aku harus segera mengunjungi ratusan rumah, membawa gerobok sampah, ya begitulah pekerjaan harianku. Kurang dari layak dengan usia yang sedini itu. Tapi apa daya, aku hidup dengan perempuan gendut yang biasa kupanggil bu lek. Sekali lagi aku memanglah Tanya yang selalu penuh tanda tanya. Bu lek yang selama ini mengurusku, jauh dari kata layak mengurus seorang keponakan yang masih butuh untuk dididik dengan pendidikan sekolah formal. Dan untuk Bu Lek Asmirah satu ini. Di pagi hari aku dipaksa untuk berkeliling dari satu rumah kerumah untuk memungut sampah. Lalu saat siang menjemput aku dipaksa untuk menjualkan jajanan cilok, junk food, dan lainnya disekolah-sekolah yang jaraknya tak bisa dibilang dekat, sekitar dua puluh kilometer aku harus mengayuh sepeda mini dengan gerobak jajanan dibelakangku, dan itu tak seringan seperti membonceng anak kecil dengan umur lima tahun. Hingga sore menjemput, aku kembali pulang untuk segera menaruh seluruh gerobak jajan siang tadi. Aku membersihkan diri dan segera bersiap meneruskan kerja rodiku. Menjadi pengamen jalanan yang turun dari satu bus ke bus lainnya.
Mungkin inilah aku yang seperti lilin, rela membakar tubuhnya sendiri untuk mengeluarkan cahaya. Memang begitulah kehidupan. Terkadang untuk sesuatu yang lebih indah diri kita harus rela berkorban, tanpa peduli jika itu menyakiti diri kita. Tapi sebentar, sesuatu yang lebih indah? Sampai kapan aku harus menunggu sesuatu yang lebih indah? Bukankah dalam riwayat hidupku tak ada kata kata indah setelah sekian lama kesusahan menjerat. Masih ingin mengharap keindahan? Dari mana keindahan itu berjalan menemuiku, menurutku keindahan itu tersesat dan ia tak pernah menjumpaiku sesekalipun.
Hari-hariku tak ada yang lebih indah selain bisa bertemu dengan mereka-mereka pemilik rumah yang selalu aku datangi dikala pagi, dan mereka para anak-anak dengan seragam putih merah, putih, dongker, dan putih abu-abu, hingga mereka yang duduk dibangku-bangku bus antar kota. Meski diantara mereka tak banyak yang tersenyum tulus, tapi aku harus tetap memberikan senyuman seikhlas mungkin untuk mereka yang terkadang teramat menyebalkan. Jika boleh memilih, aku lebih baik menjadi tanah atau langit, yang hanya bisa melihat anehnya semesta beserta isinya. Yang kini telah hilang rasa kemanusian seorang manusia. Entah karena hari ini dunia telah menua. Atau memang mereka yang tak pernah punya rasa kemanusiaan. Pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah kutemukan jawabannya.
Bukan hanya itu yang selalu membelenggu isi otak ini. Ketidakpercayaanku akan dunia luar yang begitu indah juga masih menjadi pertanyaan yang hanya bisa aku temukan dari gambar-gambar dalam layar kotak yang selalu ada disudut ruang setiap rumah. Bukan tak percaya, tapi sampai detik ini aku tak pernah sekali melangkah tuk keluar dari rutinitas sehariku. Hanya untuk sekedar melihat betapa indahnya ciptaan tuhan. Lain dari itu ribuan pertanyaan masih mengganjal dalam setiap hidup ini. ya, pertanyaan tentang kehidupan pribadiku, pertanyaan bagaimana aku bisa sampai di kota Malang, yang seharusnya aku tumbuh dan besar dengan kedua orang tua yang penuh kasih sayang di kota Bali yang penuh dengan merdunya nyanyian ombak disepanjang jalannya. Apa mungkin aku seperti Musa yang dihanyutkan dalam sungai hingga aku ditemukan oleh seorang perempuan bernama Asmirah. Entahlah hanya tuhan dan waktu yang bisa menjawab semua pertanyaan seorang Tanya, gadis yang tak pernah dianggap manusia lain karena kebodohan dan kehinaan yang dunia buat.       

1 komentar:

Chandra Adi W mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.