Senin, 02 Februari 2015

Sepucuk Surat yang Tertinggal




Pernahkah kau merasa akan kesendirian? Lalu dalam kesendirimu kau dapati oase yang dapat kau jadikan teman untuk mencurahk seluruh kegundahan. Hingga suatu saat kau kehilangannya untuk selamanya bahkan mungkin kau tak pernah temukan ia lagi.
Aku Vera remaja berumur 20 tahun dengan kehidupan yang diiringi dengan rasa gundah, galau, dan kesendirian. Bagiku hidup hanya ada satu waktu dan satu kali. Tapi entah mengapa aku selalu dan selau dijumpai dengan rasa kesendirian. Mungkin karena aku terlahir di panti asuhan tanpa kejelasan kedua orang tua. Yang aku tahu hanyalah ibu Wati, ibu panti yang selalu setia menjadi teman curhatku. Lain dari itu aku tak pernah punya teman yang selalu setia menemaniku. Bagiku teman hanyalah bullshit. Semua sama hanya datang saat mereka membutuhkanku.
Hingga suatu malam aku menerobos jalanan kota Jogjakarta. Kulalui  semua penjuru kota Jogja dengan jalan kaki. Hingga kutemukan kilometer 0 sebagai pusat kota Jogja. Disana kutemukan seorang pria tampak berdiri lesu dengan tatapan mata kosong. Lalu kuhampiri ia. Harapan yang kuinginkan hanyalah menemukan keramaian dalam keramaian. Bukan kesendirian dalam keramaian.

Kubuka percakapanku dengan secarik pertanyaan. Untuk apa kau mencari keramaian kalau kau tak bisa mengusir kesepian hatimu sendiri? Dengan gegas ia segera menolehkan wajahnya pada mukaku. Dan rasa canggung itu mulai merasuki seluruh tubuhku. Tak biasa aku bertindak seperti ini. Bagiku teralu biasa aku bergaul dan berkumpul bersama teman-teman cowok. Tapi entah mengapa hukum itu tidak berlaku untuk kali ini. Dengan tegas dia menjawab Abner Claudius. Nama yang sangat asing ditelinga ini. Hingga rasa penasaranku mulai tumbuh satu demi satu.
Pertemuan pertama yang sangat berkesan bagiku. Meski aku tak tahu banyak dari pertemuan pertama itu, tapi dari situlah aku tahu mengapa kedua orang tuanya menyematkan nama Abner Claudius karena mereka ingin Odi menjadi laki-laki yang akan menutupi segala kekurangannya dengan kecerdasan yang di milikinya. Bagiku dia memang terlalu cerdas untuk dijadikan seorang teman biasa. Entah mengapa aku mersa dia dapat membaca seluruh isi fikiranku. Mulai dari guyonan ringan hingga perdebatan panjang yang tak berujung. Aku rindu moment-moment seperti itu. Tepi saat itu aku terlalu naïf, karena aku hanya mengandalkan kecerdasannya untuk dapat menemukanku.
Hari demi hari aku lalui dengan persaan merindu meski kesendirian tetap tak bias terlepas disepanjang hariku. Kutulis surat kerinduan berlembar-lembar disetiap harinya lalu kubungkus rapi dengan amplop berwarna merah muda sebagai tanda kasih sayang. Tapi entah kemana surat itu harus kulayangkan. Tak satu alamat kudapatkan untuk menyampaikan surat-surat rindu ini. Haruskah aku menunggu ditempat pertama aku bertemu dengannya. Atau harus kuulang lagi waktu yang telah berlalu. Sangat mustahil untuk mengulang waktu yang telah berlalu. Mungkin aku harus kembali ke kilometer 0 untuk bisa melampiaskan semua kerinduan ini.
Hari demi hari, waktu demi waktu terlalui. Setiap malam selalu kutunggu dia dipersimpangan pusat kota Jogja. Tapi apa yang kudapati hanya kesepian dalam keramaian pengunjung jalanan Jogja. Tak kudapati ia meski hanya punggungnya. Mungkinkah ia manusia yang tercipta dari halusinasiku? Tapi tidak akalku menolak. Dia bukan manusia halusinasi dia manusia sepertiku. Hanya saja untuk saat ini dia sedang menemani manusia lain yang lebih membutuhkan sedikit candaan riang nan cerdas darinya. Tenangku dalam hati. Hingga kupulang dengan harapan hampa.
Dihari berikutnya aku tanggalkan impian-impian indah itu. Lalu kutata kembali hati ini seperti saat aku tak mengenalnya. Tapi entah mengapa hati itu ingin kembali mengingatnya. Kembali mengingat semerbak parfum yang terlalu wangi bagi seorang pria. Hingga aku menganggap jika dia seorang pria yang selalu menjaga kerapian dan kebersihan serta terpancar aura kecerdasan dari otaknya. Itu yang membuatku tak bias melupakan seorang Odi dari fikiran kecil ini. Lalu kuputuskan untuk kembali menemui pusat kota Jogja lagi dan lagi. Dan sekali lagi jawabannya masih sama dengan malam-malam sebelumnya tak kutemui dia lagi. Hingga aku lelah untuk tetap menunggu di pusat kota Jogja ini. Lalu kuputuskan untuk berhijrah ke kota lain Surabaya. Dengan satu harapan kehidupan tanpa terkejar rasa rindu dan kesepian dan kutinggalkan lembaran-lembaran surat tak beralamat itu dilaci kamar pantiku.
***
            Kini aku menyandang image anak Surabaya dengan gaya bahasa Jawa Timur yang sedikit kasar dan urakan. Tapi tak masalah bagiku untuk menyesuaikan kehidupan disini. Dengan suasana baru dan keadaan baru serta pekerjaan baru aku bias lari dari kerinduan serta kesepian yang selalu menemaniku di bumi istimewa itu. Aku mulai mempunyai teman baru yang selalu peduli denganku yang selalu menemaniku disetiap langkah hidupku. Bastiaan Geovanni sahabat terbaikku di kota pahlawan ini. Entah dia memang benar-benar tulus ingin berteman denganku atau karena hal lain yang mengharuskan untuk berteman denganku.
            Hari-hariku selalu terpenuhi dengan kecerian dan kebahagian bagiku hidup ini terasa indah jika kita bias mensyukuri nikmat kehidupan yang tuhan berikan pada kita. Aku merasa menyesal mengapa aku tak hijrah jauh sebelum hari kehijrahanku itu. Tapi sekali lagi ini hanyalah scenario tuhan yang harus kita jalankan untuk sebuah proyek film kehidupan.
            Tak terasa dua tahun sudah aku menikmati kehidupan Surabaya dengan gedung-gedung tingginya dan dengan kesibukanku menjadi seorang Trailer sebuah bank cabang Surabaya. Jauh disebrang sana aku tak lagi menghubungi bahkan sekedar menanyakan kabar Ibu Wati yang dulu selalu menjadi tempat diriku mencurahkan segala rasa kepenatan hati. Hingga suatu hari aku merindukan kota kelahiranku. Tak banyak waktu untuk berfikir, sesegera mungkin aku mengambil telpon genggamku lalu ku telpon Ibu asuhku nan jauh disana. Kutanyai kabarnya lau kuceritakan keadaanku disini. Aku tenggelam dalam kerinduan. Hingga saat ibu menyebutkan satu nama Odi.
            Laki-laki yang membuatku sampai di kota pahlawan ini. Ibu menceritakan secara detail apa yang sebenarnya terjadi dengannya setelah ia bertemu dengan diriku. Lalu ibu memberikan semua surat-surat kerinduanku yang telah kutulis dulu. Esok hari laki-laki itu kembali ke panti asuhan itu dan berkata jika kerinduan itu kini telah sampai pada tuannya, disaat sang pembuat rindu telah menghilang. Dan Odi pun meminta izin kepada Ibu Wati untuk menjemput sang perindu di rantauan sana. Serta ia berjanji pada diri sendiri untuk menemukan dan mengajaknya untuk bertemu kembali di tempat tumbuhnya rindu itu dibuat. Tanpa terasa tetesan air mata mulai membasahi pipiku dan saat itu pula aku mendengar ketokan pintu. Dengan gegap aku membuka dan disana aku telah menemukan sesosok pria yang selama bertahun-tahun aku ukir namanya dihatiku dengan tinta kerinduan.
***

Tidak ada komentar: