Kamis, 09 Oktober 2014

Antara Dua Jalan



Ditengah badai terjalnya kehidupan Kanisa Adiba, seorang perempuan berparas cantik yang sangat luar biasa. Ia hidup dengan kesederhanaan namun penuh kedermawanan dan kasih sayang. Di sebuah perumahan yang sederhana tepatnya di jalan Jombang Malang Keken -panggilan akrabnya- mengukir kisah hidupnya. Ditemani seorang ibu yang selalu setia dengan pekerjaan rumah dan dagangnya ia tak pernah ada kata putus asa dalam hidupnya. Anak semata wayang bu Sumarni ini selalu bangkit dari kenyataan hidup yang begitu pahit. Bagi Keken dan ibunya bukanlah hal yang mudah untuk tetap terus kedepan demi menjemput asa setelah wafatnya sang ayah tercinta.
            Sebulan yang lalu Keken memanglah anak yang lengkap punya kasih sayang dari ayah dan ibu. Namun tidak untuk saat ini, begitulah tuhan menunjukkan kuasaNya apapun yang diinginkan tak bisa dicegah. Bagi Keken ayah adalah seorang yang sangat berperan besar dalam membentuk pribadinya. Beliau selalu mengajarkan jiwa mandiri, tak kenal putus asa, saying pada semua makhluk tuhan, dan sifat dermawan. Meski ayah gadis itu bukan pegawai yang tiap bulannya mendpat penghasilan tetap, namun ia selalu mengajarkan untuk selalu memberi kepada sesama manusia. Tak pernah berpangku tangan dengan orang lain merupakan karakter kuat dari beliau. Meski hanya seorang buruh suruan, tapi beliau selalu dan selalu berusaha untuk tidak meminta-minta.
****

            Keken sekarang duduk dibangku kelas tiga jurusan IPS Madrasah Aliyah Negeri 3 Malang, salah satu sekolah favorite yang ada di kota Malang. Dengan deretan mobil-mobil mewah yang berjajar didepan pagar saat waktu pulang sekolah. Rasa minderpun biasa hadir dihati Keken, namun sesegera mungkin ia tepis dengan mengingat prestasi yang ia capai dapat dimilik banyak teman yang bermobil. Bermodal sepeda mini yang berkarat Keken berangkat dari rumah menuju sekolah. Dengan jarak tempuh yang tak terlalu jauh ia lakoni setiap hari. Sesampainya dirumah, ia selalu membantu ibunya membuat kue jajanan untuk dijualnya keliling kampong demi menyambung biaya hidupnya.
Meski begitu Keken tak pernah kehilangan waktu bermain dan belajarnya. Disela-sela kesibukan hariannya, biasanya sahabat keken Kamila Billah Marhamah dengan panggilan Mila. Meski ia berasal dari keluarga menengah ke atas yang jauh beda dengan Keken tapi ia tak  peduli dengan itu. Karena bagi Mila, Keken adalah sosok sahabat yang asyik untuk dijadikan sahabat. Lain dari itu ia juga sahabat yang tangguh, yang tak pernah memanfaatkan kemewahan yang dipunyai Mila. Bagi Mila ia beruntung bisa bersahabat dengan gadis umur 18 yang telah dihadapkan dengan bergbagai cobaan hidup.
Kedua sahabat ini sering menghabiskan waktu bersamanya disepanjang jalanan dengan bercerita asa-asa yang mereka punya. Bertukar pikiran tentang beberapa buku yang telah mereka baca. Itu merupakan progam wajib yang harus ada dalam daftar persahabatannya. Ya, itung-itung tambah pengetahunlah. Karena dengan membaca tak kan ada kata stupid dalam hidup manusia dan tak ada kata ketinggalan pengetahuan jika seorang semangat dalam membaca.
Saat ashar menjelang ia tak pernah lupa untuk melaksanakan kewajibannya laporan kepada sang khaliq. Ia menyempatkan diri untuk pergi ke masjid dan sholat ashar berjamaah, itu ia lakukan sejak dulu sebelum sang ayah tiada. Karena dengan berjamaahlah kita para umat muslim tak akan bercerai berai. Layaknya para makmum yang selalu tunduk dan patuh dengan apa yang dilakukan imam dalam gerakan sholatnya.
****
Namun tak selamanya orang baik selalu mempunyai banyak teman. Tak sedikit teman Keken yang juga membencinya. Karena keadaan social keken yang jauh dibawah standard. Mereka yang tak suka pada gadis kecil itu yang hanya anak seorang buruh, yang tak pasti kerjanya. Mereka menganggap pekerjaaan sang ayah terlalu hina, sedangkan ibunya yanng hanya seorang penjual jajan keliling terlalu buruk. Karena mereka berfikir bahwa semua pedagang jajan jalanan selalu tak pernah jujur selalu menggunakan bahan yang seharusnya tidak untuk makanan. Itulah efek negative setelah ia menonton salah satu acara televesi swasta yang menayangkan bagaimana keadaan jajanan ditangan pedagang yang tak jujur itu.
Namun ia tak pernah menghiraukan semua cemoohan, semua hinaan serta ejekan yang dilontarkan pada teman-temannya. Ia hanya mendoakan supaya mereka tak pernah mengalami kehidupan yang sekarang dijalaninya. Karena Keken tahu mereka mungkin tak akan kuat untuk terus melangkan dengan semua itu. Namun hati baik yang tertanam pada pribadi bocah umur belasan tahun itu terkadang membuat para temannya luluh tapi untuk kesekian kalinya mereka juga tak pernah berhenti untuk melakukan semua perbuatan tercela itu.
****
Keken punya kebiasaan yang jarang para remaja sekarang lakukan, entah kenapa mungkin karena terlalu menjamurnya jejaring social. Buku diary, ia selalu mengabadikan perjalanan hidupnya dalam sebuah diary. Ia yakin jika suatu saat nanti diary itu akan berguna bagi dirinya. Iapun yakin jika semua impian-impiannya yang telah tertuang di dalamnya akan terwujud. Itulah yang ia yakini setelah membaca salah satu buku yang berjudul Tafakkur. Disana terkumpul beberapa kisah yang salah satunya seorang penulis yang berwal dari sebuah mimpi-mimpinya yang selalu tertulis rapi di buku diarynya.
Tak hanya itu keken selalu mengikuti sayembara resensi buku mulai di koran-koran hingga di media online, ia juga selalu mengirimkan cerita-cerita pendek, puisi- puisi karya sendiri. Namun tak satupun karyanya tersentuh sebagai juara, meski telah ribuan kali ia mengirim tak hanya sekali, dua kali ia mengirim. Mungkin tuhan berencana lain dibalik semua itu, fikir keken ketika ia mendapati hasil yang nihil. Mungkin juga inilah langkah Tuhan untuk menjadikan kesuksesannya di hari esok.
Keinginan kuat keken untuk menjadi seorang penulis memang tak tanggung-tanggung. Ia berfikir jikalau seorang penulis adalah orang yang hebat yang bisa merubah dunia yang gelap menjadi terang. Laksana ibu Kartini dengan perjuangannya mengajarkan para perempuan untuk tetap bisa bersekolah agar kelak anak-anak mereka tak buta huruf, tak pernah dibohongi lagi oleh para penjajah, hingga bangsa ini menjadi bangsa yang hebat. Ia juga berfikir jakalau seorang penulis adalah orang yang paling bebas mengunggkapkan semua keluh kesah kehidupan. Selain itu ia tahu meski seorang penulis telah tiada namun karya-karyanya masih bisa bermanfaat bagi orang lain yang hidup. Seperti sebuah hadis yang menerangkan tentang tiga amal yang tak putus setelah meninggal dunia selain shodaqoh jariyah dan anak sholeh, ilmu yang bermanfaat juga merupakan amal terakhir yang tak putus setelah meninggal dunia.
****
            Lima bulan berlalu sepeninggal ayah tercintanya. Ia selau seakan melupakan kesedihan itu. Tak baik terlalu larut dalam kesedihan, apalagi jika sampai depresi bukan cerminan muslimah sejati bagi gadis kelahiran Malang ini. Dukungan dari sahabat, guru, tetangga, saudara, dan ibunya membuatnya tetap melaju kedepan demi mewujudkan tekad. Meski keadaan telah berubah, tapi ibu dan keken tak pernah berpangku tangan kepada saudara-saudaranya. Mereka tetap kukuh untuk tinggal di rumah yang penuh kenangan itu.
            Rumah yang dibangun dengan hasil jerih payah ayah dan ibunya itu meski sederhana tapi menyimpan sejuta kenangan yang sulit untuk ditinggal. Sebelum ayahnya menjadi buruh tak tetap. Beliau pernah menjadi seorang buruh disalah satu perusahan kertas disalah satu kota jawa timur. Namun tak lama setelah itu, perusahaan mengalami kebangkrutan yang mengakibatkan banyaknya PHK bagi para pekerjanya. Pak Suwandi adalah salah satu yang terkena imbas daribangkrutnya perusahaan tersebut. Tak lama setelah kejadian tersebut ia kembali kekampung halaman dan menjadi pekerja suruhan dengan penghasilan tak tetap.
****
            Hari ini langit Malang tak seperti biasanya, ia tampak lebih kusut mendung menyelimuti kota bunga itu. Entah kenapa sang langit tak mau bersahabat dengan Keken yang tepat hari ini ia menghadapi ujian akhir nasional. Ujian yang menentukan masa depan para siswa-siswi SMA ataupun MAN untuk membawanya ke jenjang perguruan tinggi nantinya.
Dengan perasaan bahagia karena sebentar lagi ia akan segera lulus MAN dan berkeinginan ke salah satu perguruan tinggi, tapi ia apakah keinginan itu akan terwujud atau tidak biarkan tuhan berkehendak dan manusia yang berusaha. Namun disisi lain ia juga juga takut dengan soal-soal ujian yang akan dihadapi nanti. Meski empat dari kellima try outnya selalu mengbuahkan kelulusan namun tak menutup kemungkinan jika ia akan tak lulus dalam ujian ini. Lagi-lagi rasa pesimis itu dihempas jauh-jauh oleh Keken dengan keyakinannya dan usaha yang telah ia lakukan selama ini, dengan modal Bismillaah ia langkahkan kaki menuju ruang ujian dan sesegera ia duduk di bangku yang telah tersedia untuknya.
            Beberapa jam berlalu, ujian dihari pertampun selesai dan masih tersisa tiga hari lagi untuk dapat bebas dari semua aturan-aturan tersebut. Tanpa pikir panjang dan tanpa ada gurauan-gurauan dengan para teman kelasnya. Ia bergegas pulang untuk segera membantu ibunya kemudian belajar untuk persiapan hari esok. Dengan langkah tegap dan pasti menngkarakterkan bahwa ia bukanlah sembarang gadis biasa. Ia seorang gadis pejuang yang akan terus berjuan demi cita-citanya.
            Sesampainya dirumah ia tak mendapati sambutan hangat dari ibunya. Tetapi yang ia dapati sebuah tangisan sesal oleh sang ibu. Dengnan hati bingung ia segera menanyai sang bunda, alasan apa sampai air mata itu menetas dari mata sayunya. Mugnkinkah rasa sedih karena kepergian sang ayah masih menghantui ibunda. Tapi ternyata tidak, ibu Sumarni menangis karena harus melunasi hutang pak Suwandi di salah satu pegadaian dan jaminannya adalah rumahnya. Jika dalam satu minggu kedepan belum dapat melunasi maka seluruh isi dan rumahnya akan segera tersita. Setelah mengetahu jawaban tersebut hati keken merasa bersalah karena dialah yang menyebabkan ayahnya berani berhutang dengan jaminan rumah hanya untuk biaya sekolahnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan berusaha sekuat tenaga untuk melunasinya. Kemudian ia segera menghibur ibunya jika ia akan berusaha sekuat tenaga dan memastikan bahwa allah pasti tidak akan memberi cobaan yang melebihi batas kemampuan hambanya.
            Enam hari berlalu, ujian akhir nasionalpu telah diselesaikan oleh keken. Waktu yang diberi pegawai pegadaian itupun tinggal satu hari dan hingga detik itu ia hanya bisa mengumpulkan beberapa uang saja. Belum cukup untuk melunasi semua pinjaman itu. Namun ia pasrah hanya Allahlah tempat yang bisa dimiantai pertolongan.
            Sesampainya dirumah, tiga petugas tersebut telah menunggu Keken pulang dari sekolah. Kemudian ia menyerahkan semua uang yang telah ia kumpulkan selama satu minggu yang lalu. Ternyata mereka tidak bertoleransi sedikitpun yang ia inginkan hanya semua pinjaman itu terlunasi seluruhnya. Tapi yang ia punya hanyalah sebatas itu. Tanpa belas kasih akhirnya petugas tersebut meminta mengemasi baju-baju dan barang mereka dan akan menyita rumah tersebut. Hanya pasrah dan tunduklah yang bisa keluarga tersebut lakukan.
            Namun disaat mereka sedang mengemasi baju dan photo-photo kenangan. Tiba-tiba Mila dan ayahnya datang kerumah Keken dan mereka dan petugaspun berbincang-bincang hingga pada akhirnya ayah Mila melunasi semua pinjaman tersebut. Setelah keluar dari kamar Keken dan ibunya terkejut mendapati para petugas tersebut telah pergi dan meninggal rumah dan isinya tanpa penyitaan.
            Ternyata seminggu sebelum itu, tepatnya saat petugas tersebut dating untuk kali pertama tanpa sengaja Mila menguping pembicaraan petugas dan ibu Sumarni perihal pinjaman tersebut. Sahabat dekat Keken itu ingin segera membantunya namun ia tahu bagaimana sifat Keken tak mudah menerima bantuan sebelum berusaha. Hingga pada hari ini ia meminta ayahnya untuk datang kerumah Ken untuk melunasi. Mungkin inilah jawaban Allah dari semua ikhtiar dan do’a yang mereka lakukan selama ini. Karena kesusahan selalu  bersama dengan kemudahan.